Senin, 11 Maret 2013

MUHAMMAD & AL-QUR’AN DALAM KACA MATA ORIENTALIS BARAT

Para orientalis berpendapat bahwa al-Quran dipengaruhi dan diwarnai oleh kosa kata dan ajaran Yahudi-Kristen. Orang pertama yang mengatakan bahawa al-Quran banyak dipengaruhi oleh ajaran Yahudi adalah Abraham Geiger, (1810-1874). Ia adalah seorang intelektual, Rabi dan tokoh sekaligus pendiri Yahudi liberal di Jerman. Saat itu, Geiger mengikuti kompetisi ujian masuk unniveritas Bonn pada tahun 1832 dengan menulis sebuah essay dalam bahasa Latin. Essai Geiger kemudian diseleksi oleh Prof. Georg B. F. Freytag dari fakultas Oriental Studies Unniversitas Bonn. Hasilnya Geiger mendapatkan hadiah dari hasil tulisannya itu, padahal umurnya baru mencapai 22 tahun.
Pada tahun 1883 tulisan itu pun di terbitkan kedalam bahasa Jerman dengan judul Was Hat Mohammed Aus Dem Judenthume Aufgenommen? Artinya apa yang Muhammad pinjam dari Yahudi ? Dalam essay tersebut Geiger menyimpulkan kosa kata Ibrani banyak terdapat dan berpengaruh dalam al-Quran. Seperti kata-kata, Tabut, Taurot, Jannatu Adn, Jahannam, Ahbar, Darasa, Robani, Sabt, Taghut, Furqon, Ma’un, Mathani, Malakut adalah kata-kata yang berasal dari bahasa Ibrani. Selain itu, Geiger juga berpendapat bahwa al-Quran terpengaruh oleh ajaran-ajaran Yahudi ketika mengemukakan :
 Hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin.
 Peraturan-peraturan hukum dan moral.
 Pandangan tentang kehidupan.
Selain itu Geiger berpendapat cerita-cerita yang ada dalam sejarah pun tidak lepas dari pengaruh agama Yahudi. Mengenai ayat-ayat yang mengecam doktrin atau ajaran Yahudi, Geiger berpendapat bahwa Muhammad telah menyimpang dan salah mengerti terhadap doktrin-doktrin agama Yahudi.
Teori dan pengaruh yang dikemukakan oleh Geiger dikembangkan lagi oleh orientalis lainnya. Theodor Noldeke, seorang pendeta Nasrani dari Jerman yang memuji, memuja serta mengamini segala pemikiranm Geiger. Noldeke menyatakan “ Kita mneginginkan, misalnya klaisifikasi dan diskusi yang komprenhensif mengenai segala elemen Yahudi di dalam al-Quran, permulaan untuk menggalakkan itu telah dibuat oleh Geiger pada usia muda dalam essainya “Apa yang telah dipinjam Muhammad dari Yahudi” ?”
Dengan menjadikan Bible sebagai alat ukur untuk menilai al-Quran, Noldeke berpendapat bahwa Muhammad telah menulis atau mengarang al-Quran. Noldeke mengkritik isi karangan Muhammad yang mengandung kesalahan-kesalahan fatal karena Muhammad salah dalam mengidentifikasinya. Noldeke berpendapat bahwa orang Yahudi tolol pun tidak akan melakukan kesalahan seperti yang telah dilakukan Muhammad. Kesalahan Muhammad salah satunya adalah mengenggap Haman itu adalah menterinya Firaun, padahal Haman adalah mentrinya Ahasuerus. Muhammad juga salah ketika menganggap bahwa Maryam, saudara perempuan Musa dengan Maryam ibunya Isa as.
Noldeke menyatakan “ The most ignorant Jew could never have mistaken Haman ( the minister of Ahaseourus ) for the mistaken of pharaoh, or identified Miriam the sister of moses with mary (=miriram ) the mother of crist.” Selain itu Noldeke mengatakan bahwa Muhammad bodoh tentang geografi Mesir. Muhammad bodoh karena mengatakan bahwa tanah mesir subur karena hujan. Padahal hujan sangat jarang sekali turun di Mesir. Menurut Noldeke, kesuburan tanah Mesir itu disebabkan air dari sungai Nil yang melimpah ruah.
Meneruskan kritiknya, Noldeke menyalahkan Muhammad yang telah mengisahkan cerita aneh tentang Zulkarnaen (Alexander the great). Padahal sebenarnya, kisah aneh tersebut berasal dari seorang Syiria yang ditulis pada awal abad ke-6. Selain itu ia berkata bahwa sumber utama Muhammad adalah orang-orang Yahudi. Pengaruh Kristen terhadap al-Quran sedikit. Kata Noldeke Muhammad itu bukanlah orang yang buta huruf dan tidak bisa baca tulis. Selain itu Noldeke mengatakan “He applies Aramaic expressions incorrectly.” Kata furqon misalnya, sebenarnya bermakna penebusan (redemption), namun bagi Muhammad disebut dalam bahasa Arab bermakna wahyu (revelation). Millah, sepatutnya bermakna kata (word), namun dalam al-Quran berati agama (religion).
Cara Noldeke yang menggunakan Bible untuk mengukur kebenaran al-Quran sangat keliru sekali. Jika pendapatnya diikuti maka apa saja yang ada didalam al-Quran akan keliru semua, dan kemudian bertentangan dengan Bible. Jika telah bertentangan dengan Bible maka al-Quran yang disalahkan. Padahal al-Quran kalam Ilahi yang datang untuk menyalahkan dan menentang dokrin-doktrin Bible. Hasilnya al-Quran salah, karena telah mengingkari penyaliban Yesus, menyangkal ketuhanan Yesus dan kritik terhadap ajaran-ajaran Yahudi dan Kristen dan lain sebagainya.
Semua kaum muslimin dari dulu hingga sekarang sepakat bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang Salib, namun telah diangkat oleh Allah kelangit. Sedangkan dikalangan Kristen sendiri dari dulu, sekarang bahkan nanti akan selalu berbeda pendapat tentang kematian dan penyaliban Yesus. Jadi keyakinan kaum muslimin jauh lebih kokoh. Berbeda dengan kaum Kristen yang telah , sedang dan akan mengalami berbagai ketidaksepakatan sekali pun dalam prinsip-prinsip yang mendasar, apalagi mengenai satus kitab Bible yang telah lama diragukan keasliannya oleh kalangan Kristen sendiri.
Pendapat Noldeke yang menyatakan bahwa Muhammad lebih tolol dari orang Yahudi yang paling tolol karena mengatakan Haman adalah menteri Firaun tidaklah tepat. Noldeke sendiri tidak bisa memberikan bukti jika Haman itu bukalah menteri Firaun. Noldeke juga idak tepat ketika meyetakan bahwa al-Quran menganggap Maryam adalah saudara Musa. Dalam al-Quran Maryam (ibunya Isa as) adalah saudarnya Harun (ukht harun) (surat Maryam: 19:28). Perjanjian Baru menyebutkan bahwa Elizabeth adalah istri Zakaryya sekaligus ibu Johanes (Yahya) pembaptis. Elizabeth adalah keluarga Maryam. Elizabeth berasal dari keturunan Harun. Jadi maryam dan Elizabeth adah “saudar perempuan” Harun atau anak perempuan Imron (ayah Harun). Mengenai geografi Mesir yang bertanah subur karena air sungai Nil yang melimpah, air itu melimpah juga karena air hujan. Selain itu, Noldeke juga tidak bisa membuktikan bahwa di zaman Nabi Yusuf hujan jarang sekali turun , Noldeke tidak bisa memberikan bukti berlanjut mengenai hal itu.
Hartwig Hirscfeld (1934), seorang Yahudi Jerman kelahiran Prussia, menegaskan pengaruh Bible kepada kepada al-Quran begitu erat. Bahkan dengan bahasa vulgar, hirschfeld mengatakan, ”Kitab kuno (bible dalam bahsa ibrani) itulah yang berbicara melalui mulut Muhammad.” Sebelum menjadi Nabi, Muhammad telah menjalani kursus pelatihan Bible (a course of biblical training). Tetapi kursus tersebut tidak berjalan secara sistematis karena ia tidak mengikuti instruksi para guru dengan teratur. Muhammad lebih banyak otodidak dan hasilnya al-Quran menghianati Bible. Hirschfeld mengatakan;“ The Quran thus betrays biblical coloring even in those portions, in which Muhammad expressed views which were undoubtedly original, or when he promulgated laws, which grew out of the incidents of the day.”
Charles Cutley Torrey (1956), yang mendapat gelar doktor di Strasbourg dalam bukunya The Jewish Foundation of Islam yang diterbitkan pada tahun 1933, menegaskan ide-ide Muhammad bukanlah hasil penemuannya sendiri, tetapi hasil dari pergaulannya dengan Yahudi Mekkah dan kemungkinan pergaulannyua dengan orang-orang Kristen. Torrey yang pernah menjabat sebagai President Of The American Oriental Society ketika Perang Dunia I meledak, berpendapat bahwa Muhammad menerima materi keimanan yang baru dari Yahudi yang tinggal di tanah Hijaz. Al-Quran yang merupakan karya Muhammad (his own creation) banyak memuat tentang sejarah Yahudi, legenda-legenda Yahudi, hukum-hukum Yahudi yang pada akhirnya Islam adalah keimanan Ibrahim dan Musa.
Kandungan al-Quran yang mengecam ajaran Yahudi dan Kristen seperti itu jelas akan menuai reaksi balik yang sepanjang masa. Seorang kaisar Byzantium, Leo III (717-741), misalnya telah menuduh al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi, seorang gubernur dizaman kholifah Abdul Malik ibn Marwan (684-704 m) telah mengubah al-Quran. Peter pendeta di Maimuna pada tahun 743 menyebut Muhammad adalah nabi palsu. Yahya al-Damasyqi atau dikenal sebagai John of Damasqus (750 m) juga menulis dalam bahasa Yunani Kuno kepada kalangan Kristen ortodoks bahawa Islam mengajarkan anti-Kristus. Ia berpendapat bahwa Muhammad adalah penipu kepada orang Arab yang bodoh. Dengan liciknya, katanya, Muhammad bisa mengawini Khodijah sehingga mendapatkan kekayaan dan kesenangan. Dengan cerdasnya, Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan.
Seirama dengan John of Damasqus, Pastor Bede dari Inggris (673-735) berpendapat, Muhammad adalah seorang manusia padang pasir yang liar (a wild man of desert). Bede menggambarkan Muhammad sebagai orang kasar, cinta perang dan biadab, buta huruf, berstatus sosial rendah, bodoh tentang dogma Kristen dan tamak kekuasaan, sehingga ia menjadi penguasa dan mengklaim dirinya adalah Nabi. Sikap menghina pribadi Rosulullah berlanjut hingga zaman pertengahan Barat. Pada saat itu Nabi disebut sebagai Mahound atau juga Mahoun, Mahun, Mahomet, didalam bahasa Prancis Mahon, di dalam bahasa Jerman Machmet, yang bersinonim dengan kata Setan, Berhala. Jadi Muhammad bukan sebagai Nabi. Lebih dari itu ia merupakan penyembah berhala yang disembah oang-orang Arab yang bodoh.
Pada zaman kelahiran kembali (renaissance) Barat dan zaman reformasi (reformation) Barat, pencitraan buruk atas pribadi Muhammad terus berlanjut. Marlowes Tamburlaine menuduh al-Quran sebagai karya setan, Martin Luther menganggap Muhammad sebagai orang jahat dan mengutuknya sebagai anak setan. Pada zaman pencerahan Barat, Volaire mengaggap Muhammad sebagai fanatik, ekstremis dan pendusta yang paling canggih. Biografi Rosulullah saw beserta al-Quran terus menjadi target. Snocuk Hurgronje mengatakan; “Pada zaman skeptik kita ini, sangat sedikit sekali yang diatas kritik dan suatu hari nanti kita mungkin mengharapkan untuk mendengarkan bahwa Muhammad tidak pernah ada.”
Harapan Hurgronje itu selanjutnya menjadi kenyataan dalam pemikiran Klimovich yang menulis sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 1930 dengan judul “Did Muhammad exist” ? Dalam artikel tersebut, Klimovich menyimpulkan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Muhammad adalah bualan belaka. Muhammad adalah “Fiksi yang wajib” karena selalu ada asumsi “Setiap agama harus mempunyai pendiri”.

MENJADI MANUSIA SEMPURNA

Segala apa yang ada didunia ini adalah merupakan kodrat dan kehendak Allah swt. Allah Maha berkehendak, apabila ia menginginkan suatu penciptaan maka ia hanya akan berkata jadilah, maka jadilah sesuatu itu menurut kehendak dan keinginannya. Seperti halnya kita ada didunia ini, sebagai makhluk yang dikatakan dalam al-Quran sebagai ahsanut taqwin, seyogyanya kita lebih menghambakan diri kita kepada Sang Kholik dari pada makhluk-makluk lain ciptaan-Nya. Penghambaan inilah sesungguhnya yang membuat kita mencapai derajat mulya, yakni ahsanu taqwim atau sebaik-baik makhluk. Namun jika sebaliknya, yang kita lakukan terhadap Sang Kholik adalah sebuah kenistaan dan penghianaatan serta kekufurun atas nikmat penciptaaan yang telah Ia lakukan, maka kita akan menjadi sejelek dan serendah-rendah makhluk yang lebih rendah dari pada seekor kera.
Manusia merupakan makhluk yang paling mulya yang diciptaan oleh Allah swt sebagai hamba sekaligus kolifah-nya dimuka bumi ini. Semua manusia yang hidup dibumi sejatinya memiliki fitrah untuk menghambakan diri kepada-Nya, tanpa di peritahpun sudah seharusnya manusia mengabdikan diri kepada-nya sebagi sebuah implementasi dari pada rasa syukur atas nikmat penciptaan. Pengabdian dan penghambaan kepada Sang Pencipta merupakan sumber dari pada kebahagiaan manusia dalam hidupnya, manusia benar-benar akan merasa tentram jiwa dan hatinya apabila ia selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Karena memang, jiwa manusia memiliki fitrah untuk selalu dekat dan bersifat menghamba kepada penciptnanya yakni Allah swt.
Kita telah ketahui bersama bahwa raga manusia berasal dari tanah yang bau sekali, oleh karena itu raga selalu mengajak kita kembali kepada tanah. Artinya, kita selalu di ajak oleh raga yang telah menyatu dengan nafsu untuk melakukan hal-hal yang hina dan buruk seperti halnya tanah yang dipakai untuk menciptakan raga atau badan. Raga akan selalu memaksa untuk kembali kepada asal muasalnya dimana ia diciptakan. Sedangkan jiwa berasal dari Allah yang Maha Tinggi, oleh karena itulah jiwa selalu mengajak kepada kebaikan dan hal-hal yang tinggi serta suci.
Jiwa manusia adalah merupakan motor penggerak sekaligus pengontrol dari pada raga, jiwa seyogyanya mampu mengontrol dan mengendalikan raga, jika jiwa tidak mampu mengendalikan raga, maka keburukan yang kehinaanlah yang akan memenangkan pertandaingan antara jiwa dan raga. Sejatinya, jiwa dan raga selalu berperang untuk saling mengalahkan, jiwa mengajak pada kebaikan sedangkan raga mengajak kepada keburukan. Namun, raga tadak akan bisa berupaya didepan jiwa yang besar. Kekalahan manusia dalam menghadaipi raganya (nafsunya) adalah karena kesempitan dan kekotoran jiwanya, namun apabila ia mampu membesarkan dan melapangkan jiwanya, maka ia akan mampu mengatasi keburukan yang ditimbulkan oleh raganya atau nafsunya.

Jamiah Al-khoiriyah

Jamiah Al-khoiriyah yang lebih dikenal dengan Jamiah Khoir –organisasi yang beranggotakan mayoritas orang-orang Arab, tapi tidak menutup kemungkinan bagi setiap muslim untuk menjadi anggota tanpa diskriminasi asal usul. Umumnya anggota dan pemimpin organisasi ini adalah orang-orang berada, yang memungkinkan bagi mereka untuk mengembangkan organisasi tanpa meminta bantuan dana- adalah sebuah organiasai yang didirikan pada 17 Juli 1905 di Jakarta. Organisasi ini memusatkan gerakannya pada bidang pendidikan. Lebih terperincinya lagi organisaasi ini memusatkan pada :
 Pendirian dan pembinaan satu sekolah pada tingkat dasar
 Pengiriman anak-anak ke Turki untuk melanjutkan studinya.
Namun bidang kedua ini terhambat karena kekurangan dana dan kemunduran khilafah, dengan pengertian tidak seorang pun dari mereka yang dikirim ke Timur Tengah memainkan peranan yang penting setelah mereka kembali ke Indonesia.
Bidang kurikulum dan jenjang kelas-kelas sudah di atur sedemikian rupa secara terorganisir (sistem klasikal). Jamiah al-Khoiriyah mendirikan Sekolah Dasar pada tahun 1905, namun sekolah ini bukanlah merupakan skolah yang bersifat agama semata namun bersifat umum seperti halnya sekolah-sekolah lain. Di dalamnya diajarkan pula tata cara berhitung, sejarah (umumnya sejarah Islam) dan ilmu bumi sedangkan Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu di pakai sebagai bahasa pengantar pada saat pengajaran dan bahasa Belanda (yang saat itu merupakan pelajaran wajib disetiap sekolah-sekolah belanda) tidak di ajarkan sama sekali, namun pelajaran bahasa Inggris di ambil sebagai gantinya dan di jadikan pelajaran wajib. Murid dari pada Jamiah ini pun terdiri dari orang-orang keturunan Arab atau pun anak-anak Islam dari Indonesia sendiri yang kebanyakan berasal dari Lampung.
Untuk memenuhi tenaga guru yang berkualitas, Jamiah al-Khoiroh mendatangkan guru-guru dari daerah lain bahkan dari luar negeri untuk mengajar di sekolah tersebut. Pada tahun 1907 Haji muhamamd Mansyur seorang guru dari pada diminta untuk mengajar karena kecakapannya dalam bidang agama dan juga kemampuannya dalam bahasa Melayu.
Tercatat ada beberapa guru yang didatangkan dari luar negeri seperti: al-Hasyimi dari Tunis yang didatangkan pada tahun 1911 yang disamping mengajar juga mengenalkan gerakan kepanduan dan olah raga di lingkungan Jamiat al-Khoiroh. Karena itu beliau di kenal sebagai orang pertama yang mendirikan gerakan kepanduan dikalangan oarnag-orang Islam di indonesaia. Pada bulan Oktober tiga orang guru dari Arab bergabung bersama Jamiah ini, mereka adalah syekh Ahmad Surkati dari Sudan, syekh Muhammad Thaib dari Maroko dan syekh Muhammad Abdul Hamid dari Mekkah. Namun, syekh Thaib tidak lama tinggal di Indonesia dan pulang ke Maroko pada tahun 1913, sedangkan Syekh Hamid pindah ke Bogor pada sebuah sekolah yang bernama Jamiah al-Khoir juga.
Salah seorang guru yang paling terkenal adalaah syekh Ahmad Soekatti dari Sudan. Beliau tampil sebagai tokoh pemikiran-pemikiran baru dalam masyarakat Islam Indonesia. Salah satu pemikirannya adalah bahwa muslim itu adalah sama dan tidak ada perbedaan diantara orang muslim. Kedudukan, harta, pangkat tidak menjadi penyebab adanya diskriminasi dalam Islam.
Pemikiran ini sebenarnya muncul ketika terjadi pertikaian dikalangan masyarakat Arab yang berkaitan dengan hak istimewa dikalangan Sayyid (gelar yang disandang bagi orang yang memiliki garis keturunan dengan Nabi saw). Salah satu hal yang diperdebatkan adalah adanya larang bagi wanita sayyid untuk menikah dengan laki-laki non-sayyid. Dan jika bertemu dengan seorang sayyid maka orang yang berasal dari keturunan non-sayyid baik orang Arab maupun orang ‘Ajam, maka wajib mencium tangannya. Apa bila hal itu tidak dilakukna maka akan timbul pertikaian dikalangan Jamiat al-Khoirot.
Menyusul kemudian, pada Oktober 1913 empat orang guru sahabat-sahabat Surkati bergabung juga dengan Jamiah ini, yaitu Muhammad Noor (Abul Anwar) al-Anshari, Hasan Hamid al-Antasari, Ahmad al-Awif yang kemudian diperuntukkan bagi Jamaah Khair yang didirikan di Surabaya dan salah seorangnya adalah saudara kandung Surkati, yaitu Muhammad Abdul Fadal Ansari.
Walau hanya satu orang jebolan universitas al-Azhar Kairo Mesir Syaikh Muhammad Noor (tahun 1899-1906) yang juga pernah manjadi murid langsung Muhammad Abduh (revormer Mesir) namun para guru-guru tersebut telah mengenal karya-karya Muhammad Abduh ketika mereka berada dinegara-negara asal mereka dan mereka menyatakan sebagai pengikut-pengikut setia sang revormer Mesir itu.
Hal ini sangat nampak sekali pada materi pelajaran yang mereka fokuskan yaitu pelajaran bahasa Arab (Abduh memang mementingkan pembelajran bahasa Arab guna memahami ajaran-ajaran Islam) dalam usaha pengembangan jalan pikiran murid yakni dengan cara menekan pengertian dan daya kritik, bukan hafalan, juga dalam mata pelajaran lainnya seperti sejarah, ilmu bumi disamping pelajaran-pelajaran agama pemakaian buku-buku bergambar didalamnya, terutama gambar manusia yang menurut sebagian golongan dilarang.
Disamping membawa pembaharuan dalam sistem pembelajaran (yang pertama memasukkan pengetahuan umum dan bangsa asing kedalam daftar pengajarannya/April 1910), mereka juga memperjuangkan equalitas hak-hak antara muslim dan pemikiran kepada al-Quran dan hadis Nabi saw. Hal-hal inilah yang kemudian membuat mereka terasing dari kalangan sayyid dari Jamiah Al-Khoiroh yang melihat ide persamaan hak ini akan mengancam kedudukan para sayyid yang lebih tingi dibandingkan dengan orang Islam di Jawa. Hal ini kemudian berlanjut hingga timbul perpecahan dikalangan Jamiah Khoirot hingga akhirnya melahirkan organisasi baru yakni al-Irsyad yang diprakarsai oleh Syekh Ahmad Surkati dengan kepergian beliau ke Jakarta dan mendirikan gerakan agama sendiri yang bernama al-Ishlah wal Irsyad -yang saat ini di kenal dengan al-Irsyad- dengan haluan mengadakan pembaharuan dalam Islam (reformisme). .
Hal penting yang patut di catat bahwa Jamiyah al-Khoiriah merupakan organisasi modern pertama yang memiliki AD/ART daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat secara berkala, memiliki buku-buku pandudan bergambar, kelas-kelas, pemakaian bangku, papan tulis dan sebagainya. Dengan demikian, Jamiah Al-khoiroh dapat dikatakan sebagai pelopor lembaga pendidikan modern di tanah air Indonesia. Ia juga merupakan organisasi pertama yang bukan didirikan oleh Belanda yang seluruh sistem pembelajarannya berdasarkan sistem Barat. Dalam Jamiah inilah, sosok Ahmad Dahlan dan HOS. Cokrominoto di didik dan di gembleng sedemikian rupa hingga mampu mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah. Dengan begitu, organisasi ini memenuhi persyaratan untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah.
Meski tujuan awalnya hanya berkecimpung dalam bidang pendidikan, namun usaha Jamiat Khoir kemudian meluas sampai pada penyiaran Islam, perpustakaan dan surat kabara (26 Januari 1913) dan mendirikan percetakan bahasa Arab Setia Usaha (atas bantuan S. Muhammad B. Saleh B. Agil dan S. Abdullah B. Alawi Alatas) yang dipimpin oleh Umar Said Tjokroaminoto yang kemudian menerbitkan surat kabar harian Utusan Hindia (31 Maret 1913).
Terlibatnya orang-orang Jamiat Khoir dalam kancang perpolitikan baik dalam maupun luar negeri, misalnya dalam hubungan politik Jerman dalam perang dunia yang pertama 1914 dan hubungan antara S. Muhammad al-Hasyami dengan gerakan Islam di Turki jauh, menyebabkan perkumpulan ini sangat di curigai oleh pemerintahan penjajah Belanda yang saat itu berkuasa.



DAFTAR PUSTAKA:

Dra. Hj. Enung K. Rukiati & Dra. Fenti Hikmawati. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung. Pustaka Setia. 2008.
Dra. Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Bumi Aksara. Jakarta. 2008
Dra. Hanun Asrohah, M.Ag. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta. PT. Logos Wacana Ilmu. 1999

Pendidikan, Normalisasi Manusia

Pendidikan adalah harga mati bagi manusia. Manusia benar-benar tidak bisa hidup normal tanpa pendidikan. Karena, ketika manusia menemukan suatu masalah dalam hidupnya, ia pasti akan membutuhkan ilmu untuk menyelesaikan kemelut hidupnya. Sejatinya, pendidikan tidaklah hanya sebatas pendikan sekolah atau pendidikan formal, akan tetapi pendidikan sangat luas cakupannya. Bila ditinjau dari segi formalitas, maka pendidikan dapat dibagi menjadi dua yaitu pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang kita dapatkan ketika dibangku sekolah, sedangkan pendidikan nonformal adalah pendidikan luar sekolah, baik itu dari lingkungan keluarga, masyarakat, teman bahkan juga pendidikan yang bisa kita dapat dari lingkungan atau alam.
Jika dilihat dari segi praktiknya, maka pendidikan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pendidikan jasmani, pendidikan etika atau akhlak dan pendidikan roh atau jiwa (spiritual). Tiga cakupan pendidikan ini adalah yang harus dikembangkan dilembaga-lembaga sekolah diseluruh dunia, sehingga anak didik tidak hanya mendapat asupan ilmu atau intelektual saja dari sekolah, namun yang lebih penting adalah penanaman dan pembudayaan nilai-nilai yang tekandung dalam pendidikan tersebut. Aplikasi dari pada keilmuan yang didapat oleh murid itulah yang harus kita fokuskan dalam rangka manjaring praktisi-prakstisi yang dapat membangun serta memajukan bangsa dengan pendidikan.
Dalam banyak hal, kita telah mengetahui bahwa sanya pendidikan di sekolah-sekolah kita hanyalah sekedar ajang transfer ilmu atau pengetahauan dan melupakan hal yang terpenting dalam pendidikan adalah pembudayaan dan bukan hanya sekedar pengajaran. Ketika seorang guru hanya menyampaikan ilmu kepada murid maka hal ini akan sangat mudah sekali terlupakan karena tidak ada aplikasi dari pada ilmu tersebut, inti dari pada pengajaran ilmu pengetahuan itu adalah pengamalan yang terbudayakan.
Perlu sekali dipahami, bahwa seseorang tidak akan pernah melakukan sesuatu apapun tanpa ilmu yang ia miliki, ia akan selalu bertindak bodoh dan membahayakan, namun seseorang juga tidak hanya cukup hidup dengan ilmu pengetahuan tanpa pembudayanan dan pengamalannya. Hal ini jelas bahwa ilmu yang kita miliki tidaklah membawa pada kebaikan malah membawa kemudlaratan. Ketika guru hanya menggembeng intelektualitas murid dan melupakan aplikasi dari pada ilmu pengetahuan itu sendiri (akhlak) maka guru itu telah berhasil dalam mencetak intelektual-intelektual yang korup, guru tersebut telah sukses dalam mendidik manusia-manusia yang akan memeras umat dan bangsa yang nantinya akan dipimpinnya.
Aplikasi dari pada ilmu pengetahuan, disini kita sebut sebagai akhlak atau tingkah laku. Ketika seseorang memiliki ilmu pengetahuan, maka akan tercermin dari gerak-gerik dan tingkah lakunya. Kita pasti akan sangat mudah membdakan antara orang yang bodoh dengan orang yang berilmu atau pintar, kita bisa melihat dari cara dia bertutur dan bertingkah laku, akan muncul suatu perbedaan mendasar dalam segi tutur kata dan tingkah laku diantatra keduanya. Namun, ilmu yang kita miliki sejatinya bukanah sesuatu yang final dan mutlak kebenaranya, ilmu pasti relatif dengan keadaan zaman dan masa.
Secara garis besar, ilmu yang kita miliki akan menjadi penerang bagi kita bila kita mengamalkan ilmu itu dalam kehidupan kita sehari-hari, namun ilmu tersebut akan menjadi malapetaka yang tidak hanya merugikan diri kita sediri bahkan orang lain ketika kita hanya berspekulasi dengan akal atau mengisi otak saja dan melupakan akhlak, akhlak adalah cerminan dari ilmu dan iman.
Ketika seseorang belajar dengan penuh keyakinan bahwa ilmu itu berasal dari Sang Pencipta atau dia belajar dengan diiringi oleh iman, maka akan tampak pada dirinya akhlak atau tingkah laku yang terpuji. Ketika seseorang pintar atau berilmu tinggi namun kelakuannya tidak juga berubah layaknya orang yang tidak berilmu, maka perlu kita pertanyakan proses ia dalam mendapatkan ilmu tersebut. Kita yakin bahwa ia tidak ikhlas dalam mencari ilmu dan mencari ilmu hanya untuk mengisi otak dan bukan untuk memenuhi panggilan Ilahi.
Di negara kita, begitu banyak orang yang pintar namun kepintarannya justru menjadi malapetaka bagi dirinya dan orang lain. Kita memang membutuhkan orang yang pintar untuk menyelesaikan masalah kemelut bangsa, namun sejatinya kita lebih membutuhkan orang yang benar dari pada orang yang pintar. Seseorang yang benar sudah barang pasti ia pintar, sedangkan orang yang pintar belum tentu ia benar. Ketika seseorang melakukan kebenaran, maka bisa dipastikan bahwa ia orang yang pintar, karena mustahil orang bisa mengambil tindakan benar sedang ia tidak mengetahui apakah itu benar atau salah.
Ketika ia mengetahui bahwa hal itu benar maka ia lakukan itu, kebenaran adalah persesuaian antara ucapan atau pernyataan dengan realita atau kenyataaan. Namun sebaliknya, orang yang pintar belum tentu ia menjadi benar, hal ini tergantung kepada pemilik ilmu tersebut, apakah ia mengaplikasikan dan mengaktualisasikan ilmunya atau tidak, apakah ilmu itu digunakan untuk kebaikan atau kejahatan. Maka orang yang pintar belum tentu benar dan orang yang benar sudah pasti ia pintar.
Dalam istilah Arab, pendidikan di terjemahkan sebagai Tarbiyah. Banyak varian makna dari kata Tarbiyah ini, yaitu pembudayan, pembiasaan dan pengajaran. Tarbiyah adalah membudayakan dan membisakan anak didik terhadap hal-hal yang positif. Pendidikan juga merupakan pengajaran atau transfer ilmu kedalam otak murid. Namun pengajaran lebih kecil cakupannya dibandingkan dengan pendidikan. Namun keduanya tetap pararel, karena pendidikan tidak akan berjalan dengan lancar tanpa pengajaran begitu juga pengajaran tidak akan berjalan mulus tanpa pendidikan.
Pendidikan di Indonesia khususnya, lebih banyak mengedepankan pengembangan intelektual anak dan abai terhadap sisi-sisi emosinal dan spiritual anak didik. Seakan intelektualitas mampu menyelesaikan segala macam persoalan, sehingga semua orang berlomba-lomba mencari sekolah atau tempat belajar formal yang memiliki kapasitas dan kredebilitas ditengah masyarakat akan skill nya dalam membangaun keintelektualan siswa. Banyak sekali sekolah-sekolah favorit di Indonesia saat ini, namun sayanggnya disekolah ini hanya sisi intelektualitas saja yang dikejar dan melupakan sisi emosional dan spiritual.
Paradigma masyarakat Indonesia inilah yang harus kita ubah, kita harus bisa meyakinkan kepada khalayak bahwa intelektualitas bukanlah way of life. Intelektualitas bukanlah satu-satunya kecerdasan yang bisa menyelelesaikan semua masalah yang ada. Kita harus berani bersuara bahwa kecerdasan emosional dan spiritual yang selama ini dilupakan masyarakat Indonesai merupakan hal yang harus diraih. Karena kecerdasan emosional dan spirituallah yang mampu membawa kita pada kesuksesan, tidak hanya kesuksesan didunia tapi juga kesuksesan diakherat kelak.
Emosional adalah cerminan dari keilmuan seseorang, emosi inilah yang sering disebut orang dengan akhlak atau tingkah laku. Kapasitas keilmuan seseorang berpengaruh kepada akhlak dan tigkah laku kesehariannya. Serang yang berilmu tinggi haruslah memiliki akhlak ynag tinggi pula, semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin ia dituntut untuk memiliki akhlak yang terpuji, Ia berkewajiban untuk mengaktualisasikan ilmu yang dimilikinya kedalam kehidupan sehari-hari.
Sangat disayangkan sekali, apabila seseorang memiliki kapasitas keilmuan yang tinggi namun kualitas akhlakaknya menurun dan tidak sesuai dengan ilmu yang dimiliinya. Hal ini merupakan malapetaka yang akan menyengsarakan banyak orang. Ketika ilmu bertambah dan akhlah tidak berubah, maka ia akan semakin jauh dari Sang Maha Pencipta Allah SWT.
Ilmu adalah milik Allah SWT, sudah seharusnya kita mengabdikan diri kepada-Nya yang telah memberikan ilmu-Nya kepada kita. Apabila kita menyadari dengan sepenuh hati akan hakekat ilmu, maka kita akan seperti padi yang semakin berisi semakin tunduk dan tawdlu’. Hal inilah yan dinginkan oleh Islam, dimana setiap orang yang semakin bertambah ilmu maka semakin nampak pula kebodohannya dan keluasan ilmu Allah yang tiada pernah habis untuk digali. Ilmu berupaya mengantarkan kita kepada tujuan kita,. Tujuan kita adalah sang pencipta dan kita tidak akan pernah bisa bertemu dan berjuma dengan apa yang kita tuju kecuali dengan ilmu. Seperti hadits Nabi yang mengatakan, “Barang siapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia berilmu, Dan barang siapa yang menginginkan akherat, maka hendaklah ia berilmu, Dan barang siaa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah ia berilmu.”
Hadist ini sangat jelas, untuk dapat hidup didunia maupun bahagia di akherat kita harus memiliki ilmu pengetahuan. Kita meyakini bahwa Allah akan mengangkat derajat manusia dengan ilmunya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Mujadalah, “ Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan berberapa derajat.” Ini janji Allah SWT, bahwa ia tidak akan menghinakan orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Orang yang berilmu pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.
Namun, dalam ayat diatas disebutkan, bahwa yang diagkat adalah orang yang beriman baru kemudian orang yang berilmu pegetahuan. Hal ini untuk mengkorelasikan bahwa iman dan ilmu itu pararel sifatnya. Ilmu sejatinya menuntut kepada keimanan dan keimanan tidak akan terbentuk melaikan dengan ilmu. Kita tidak akan beriman kepada Allah, kecuali kita mengetahui Allah. Kita tidak bisa mengimani sesuatu kalau terlebih dahulu tidak mengetahui sesuatu itu, kita baru akan yakin dan percaya bahwa hal itu seperti ini dan begitu setelah kita mengetahuinya.
Hal ini berbeda dengan keimanan Kristiani yang mengimani sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahui. Sehingga baik dan buruknya sesuatu itu tetap kita ambil karena kita telah meyakinai dan mengimanai sesuatu itu. Keimanan Kristiani mengajarkan bahwa kita harus mengimani Yesus Kristus sebagai Tuhan tanpa harus mengetahui terlebih dahulu akan siapa dan apa serta bagaimana Yesus Kristus itu sendiri. Sehingga setelah kita mengetahui apa dan siapa serata bagaimana Yesus Kristus itu, maka keimanan kita tidak akan runtuh karena biar bagaimanapun jeleknya Yesus Kristus itu, kita tetap mengikutinya karena kita telah beriman terlebih dahulu sebelum mengetahuinya bahwa ia bukanlah Tuhan.
Hal ini tidak senanda dengan Islam yang mengajarkan kepada kita untuk mengetahui terlebih dahulu sebelum meyakini sesuatu. Ini berkaitan dengan surat pertama yang diturunkan yaitu Iqro’. Surat ini mengindikasikan bahwa kita haruslah membaca guna memperoleh ilmu pengetahuan, kita dianjuran belajar. Ayat yang pertama turun bukanlah ayat tentang Allah, nanun ayat yang turun adalah perintah belajar. Sebelum kita meyakini Allah sebagai Tuhan seluruh alam, kita diwajibkan terlebih dahulu untuk belajar banyak hal. Karena kita memubutuhkan ilmu yang banyak untuk meyakini dan mengimani Allah secara benar.
Kapasitas keilmuan seseorang akan mempengaruhi sistematika logika berfikirnya, semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin bagus kemampuan nalar, berfikir dan logikanya. Hal inilah yang diinginkan. Seseorang yang berilmu akan mudah menerima Allah sebagai Tuhannya, karena logika manusia tidak akan pernah bertentangan dengan ajaran Allah. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin mudah baginya untuk meyakini dn mengimani Allah serta tunduk beribadah kepada-Nya.
Tunduk dan mengakui akan kebenaran Islam adalah tujuan akhir dari pada pendidikan. Pendidikan yang berorientasi pada pengembangan intelektual sejatinya sangat bagus sekali dikembangkan, namun perlu disadari bahwa intelektual tidak dapat menjamin seseorang untuk hidup sukses. Disamping penggemblengan intelektual, kita juga harus menggembleng moralitas dan spirituaitas kita. Karena ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah yang akan memberi manfaat pada orang lain. Pengamalan yang kongkrit inilah bentuk nyata dari ilmu yang abstrak. Jadi perlu sekali kongkritisasi ilmu dengan mengaktualisasikannya kedalam kehidupan sehari-hari.
Spekulasi akal dalam memperoleh ilmu sejatinya sah-sah saja, namun yang perlu kita sadari adalah bahwa akal memiliki batasan-batasan tertentu yang tidak mampu dicapainya. Seperti hal-hal yang ghoib. Akal tidak akan sanggup mencapai atau menalar akan eksistensi Allah yang batin, keadaan sorga dan neraka. Keterbatasan akal manusia inilah yang menyebabkan turunnya al-Quran sebagai pedoman manusia dalam berfikir dan bertindak. Kalau seandainya akal manusia tidak memiliki batasan-batasan, maka tidak ada gunanya al-Quran turun karena manusia telah mengetahuai segala sesuatu baik yang dzahir maupun yang batin atau ghoib. Al-Quran turun untuk memberikan informasi kepada manusia bahwa Allah seperti ini, Sorga dan Neraka seperti ini dan lain sebagainya.
Manusia sejatinya memiliki kecenderungan untuk mengetahui sesuatu karena dengan megetahui sesuatu itu maka batin manusia akan merasa puas, nah kepuasan inilah yang ingin digapai oleh manusia. Ketika manusia ingin mengetahui sesuatu, maka ia membutuhkan ilmu pegetahuan, namun ketika ilmu pengetahuan tidak mampu memuaskan batinnya,maka ia beralih kelapangan filsafat yang lebih mendalam untuk mengetahui hakekat hidupnya, namun filsafat juga belum bisa memuaskan batinnya, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang bernaung dipikirannya. Oleh karena itulah wahyu turun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sekaligus memuaskan batin atau jiwanya.

Pesantren, Pendidikan Khas Indonesia

Pesantren adalah lembaga yang kaya akan potensi integrasi sosial. Jangkauannya yang luas, kedekatannya dengan masyarakat dan kemampuannya membangun pembelajaran lintas generasi sangat dibutuhkan sekali oleh masyarakat Indonesia yang sedang dalalm masa transisi. Disitu pesantren menemukan fokusnya pada upaya melahirkan alumni-alumni yang tidak hanya bermodal pengakuan akan tetapi out put yang dapat bertumpu pada kejituan bertindak dalam perilaku yang berwatak atau berkarakter. Diharapkan alumni dari pesantren memiliki cirri khas atau karakter dalam segala tindak tanduknya dimana dia berdomisili dengan komunitas di masyarakatnya.
Jika kita berbicara tentang perkembangan pesantren, maka kita juga akan berbicara masalah perkembangan sejarah yang amat panjang. Dalam kerangka waktu 600 tahun akan tampak bahwa pesantren berkembang pada setiap tahap dan memberikan jawaban-jawaban sesuai dengan kepribadiannya, sesuai dengan kemampuannya yang nyata yang dimiiki olehnya. Sejak masa kebangkitan nasional, telah kita ketahui bahwa pada tahun 1920-an adalah tahun –tahun kebangkitan pesantren. Pada masa awal kemerdekaan, jawaban-jawaban ketika Indonesia masih dalam proses pembentukannya, termasuk pembentukan dasar Negara dan juga undang-undang dasar, ketika terjadi konflik-konflik internal dari berbagai kelompok yang ingin merdeka, pesantren memiliki posisi yang tersendiri dalam indonesia yang satu.
Perkembangan ini mengingatkan kita pada kalimat hikmah di pesantren, yaitu al-muhafadzah ‘ala al-qadim ash-shalih ma’a al-akhdzi bil jadid al-ashlah, kata-kata ini dalah wisdom atau hikmah yang luar bisa nilainya. Dengan slogan itu kita berarti diajak untuk melestarikan yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Pesantren tumbuh dengan mengembangkan al-qadim ash-sholih dengan belajar ilmu-ilmu manajemen, teknologi informasi, komunikasi dan lain sebagainya, sehingga tidak monoton kepada pengkajian kitab klasik saja. Sehingga dengan begitu, para alumni pesantren dituntut untuk bisa hidup dizamannya dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya.
Pengembangan pesantren yang ideal adalah perkembangan dari dalam atau development from within, seperti para guru pesantren melakukan kunjungan kelembaga pendidikan lain guna mengambil masukan atau input. Untuk itu tampak beberapa model pengembangn pesantren. Pertama, mengembangkan keaneka ragaman pendidikan, sesuai dengan pilihan, minat dan bakat santri. Disinilah kelebihan sistem pesantren, yang perlu sekali dikembangkan secara lebih kreatif. Kedua, mengembangkan pendidikan yang bukan menghasilkan alumni yang siap pakai (ready for use), yang pada dasarnya tidaklah ada, karena lembaga bukanlah sebuah pabrik atau siap belajar lagi (ready to learn) saja, melainkan pendidikan yang menyiapkan tamatan yang siap untuk dilatih kembali dengan keahlian yang berbeda (retrainable). Ketiga, mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan keilmuan, seperti bahasa, metodologi, dan penelitian. Keempat, mengembangkan pendidikan yang beraspek pelayanan dan bimbingan sosial keagamaan, termasuk menyiapkan da’i dan guru agama yang mumpuni sesuai dengan kebutuhan umat.
Kunci pengembangan pesantren adalah pengembangan metodologi, bahasa, manajemen pendidikan dan perpustakan bebasis teknologi informasi. Kunci-kunci pengembangan itu membekali pesantren untuk memulihkan jati dirinya yang bertumpu pada ruhul intiqod (sense of critism), ruhut taftisy (sense of inquiry), ruhul ibtikar (sense of discovery), dan ruhul ikhtira’ (sense of creation).
Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai kebutuhan yang pemenuhannya relative dan bisa digantungkan pada kemampuan sosial ekonomi masyarakat, sehingga hanya yang kaya sajalah yang dapat menikmati pendidikan di pesantren yang berkualitas, melainkan seharusnya juga dipahami sebagai hak santri sebagai warga negara. Sebagai hak, maka pemenuhannya normatif dan tidak dapat digantungkan pada kemampuan sosial ekonomi masyarakat. Beginilah seharusnya cara-cara pesantren dalam memperjuangkan hak-hak santri sebagai muslim dan warga Negara. Pada gilirannya berpengaruh pada kapasitas pesantren sebagai lembaga yang hidup ditengah-tengah masyarakat.
Kelembagaan pesantren menemukan polanya yang tidak jauh berbeda sejak akhir abad ke-15 hingga dewasa ini. Pembaruan yang ada menemukan bentuknya pada replikasi Madrasah Nidzamiyah yang berkembang di Baghdad sejak 459 h/1067m. keberhasilan madrasah ini di kalangan pesantren ditunjukkan oleh pesantren Tebu Ireng Jombang yang berdiri sejak tahun 1934. Bedanya adalah, bahwa yang di Baghdad didirikan untuk memasok pegawai dan hakim dalam pemerintahan Nidzam al-Mulk, ia adalah wazir dari Dinasti Saljuk. Sementara pesantren yang ada di Indonesia didirikan sebagai bentuk alternasi pesantren terhadap model barat yang didirikan oleh Hindia-Belanda. Sejak Indonesia merdeka, berangsur-angsur berdiri universitas dan perguruan tinggi yang dapat dikatakan justru sebagai kelanjutan dari Madrasah Nidzamiyah di Baghdad.
Ruh Pesantren
Ruh pesantren adalah ibadah, dasarnya adalah ajaran agama Islam yang bersumber dari al-Quran, Hadist dan Ijtihad ulama dalam Ijma’ dan Qiyas. Dalam ruh ibadah itu terdapat dua bentuk modus eksistensi, yaitu sebagai hamba Allah dan sebagai kholifah-Nya di bumi. Sebagai hamba, warga pesantren menekuni jalan kebebasannya dari belenggu kebodohan, keterbelakangan, ketidakberdayaan dan kemiskinan., menuju kepandaian, kemajuan, keberdayaan dan kemakmuran. Dalam perjalanan pembebasan ini, akan ditilik apa makna tiap-tiap capaian itu bagi statusnya sebagai makhluk yang akan kembali pada-Nya dan mempertanggung jawabkan semua. Sebagai kholifah, manusia mempunyai tugas untuk mengelola dan memanfaatkan dunia yang juga harus bertanggung jawab pada Allah.
Dalam status kehambaan dan kekholifahan ini, maka pesantren diselenggarakan dalam jalur ikhtiar untuk lebih memanusiakan manusia sesuai fitrahnya. Fitrah manusia adalah bertauhid, mengakui Allah itu Esa. Implikasi dari pada tauhid ini adalah kesetaraan semua manusia dihadapan-Nya karena yang Maha Kuasa hanya Dia. Ketika surat al-Ikhlas 1-4 turun di Mekkah, saat itu sedang terjadi proses paganism atau penyembahan berhala. Tidak ada kitab suci yang ada hanya otoritas, ukuran kebenaran dilekatkan pada kekuasaan.
Manusia dibekali oleh Allah dua fitrah, yaitu Fitrah Munazzalah (yang diturunkan) dan Fitrah Mukhollaqoh (bawaan). Fitrah yang diturunkan adalah firman-firman-Nya yang dibawa utusan dan fitrah bawaan adalah ruh (sajadah ; 7-9, hijr : 29 dan shad : 72). Dalam diri manusia juga terdapat akal (zumar:21) dan hawa nafsu (syams:7-8) dengan pengawalannya berupa kalbu dan indera (nahl:78). Dengan akal, indera, dan kalbu manusia memperoleh ilmu pengetahuan.
Manusia dapat dilihat dari dua tataran, yaitu Basyar dan Insan. Basyar menunjuk pada segi yang tampak pada tubuh, seperti kulit, kekuatan, pertumbuhan dan kedewasaan. Sedangkan insan terlihat totalitasnya, meliputi jiwa, dan raga. Secara kelembagaan ruh pesantren yang berupa ibadah itu harus dijabarkan menurut sifat agama Islam, yaitu agama wahyu, agama ta’lim, agama insan dan agama kemajuan atau ishlahi. Dengan ruh itu, pesantren akan terus melekat kepada pembelajaran kitab-kitb klasik dan membuka diri kepada ilmu-ilmu modern yang ada dewasa ini. Sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan, pesantren dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu :
 Pesantren Syariat menekuni pembelajaran hokum agama Islam, meski juga menyertakan penjiwaan Tasawuf.
 Pesantren Thoriqat menekuni pencarian kesucian diri batiniah melalui tasawuf meskipun tetap mendasarkan pada penguasaan syariat terlebih dahulu. Kontemplasi, hidup asketis (zuhud) dan penyegaran spiritual..
Dengan demikian, syariat bisa dipandang sebagai satu tahapan dan tharekat sebagai tahapan berikutnya. Dalam kategori pesantren syariat terdapat varian kategori :
 Pesantren Alat, focus pada pembelajaran kebahasaan dan sastra arab, seperti nahwu, shorof, mantiq untuk percakapan maupun tulisan.
 Pesantren Kitab, focus pada pembelajaran hokum-hukum islam terutama fiqh dengan ilmu alat kebahasaan sebagai pendukungnya.
 Pesantren Quran, focus pada pembelajaran dan penguasaan quran mulai membaca, menghafal, tafsir dan qiroat.
Pesantren Sebagai Simpul Budaya
Pesantren juga sebagai simpul budaya, sebagai contoh, di Jawa ada seni Robana dengan berzanji dengan berbahasa Arab yang akrab dengan warga pesantren. Iringan musiknya lebih dekat ke lenggam Jawa dengan iringan lenggam Jawa yang mengacu kekerajaan Demak dan Timur Tengah. Dikampung sekitar pesantren juga berkembang Laras Madya yang berisi syair-syair nasehat dan tuntunan budi pekerti Rosulullah dalam bahsa Jawa dengan oringan musik yang lebih dekat dengan lenggam Jawa. Dilingkaran yang lebih luar lagi adalah Rodad, beisi kisah-kisah heroik dari sejarah Islam yang dimainkan para pemuda dengan pakaian warna-warni dengan peluit sebagai alat pemberi aba-aba.
Dalam pesantren juga terdapat istilah Religio Feodalism atau feodalisme berbaju keagamaan, karena adanya prilaku menghormat kepada kyai sebagai pemegang otoritas di lingkaran itu. Penghormatan itu juga sampai pada keluarganya. Penghormatan itu sebenarnya sebagai bentuk kepecayaan dan mandat agar kyai dan keluarganya teap teguh dalam mengemban amanah sebagai moderator dinamika nilali-nilai kultural disekelilingnya. Dengan demikian, tudingan akan adanya religio feudalism merupakan penilaian dari luar yang kurang teliti atas mandate masyarakat kepada kyai pesantren sebagai pemuka pendapat.
Wibisono Siswomiharjo (1989) mencatat perubahan sosial sekarang bercirikan :
 Mondial, karena perubahan mencakup seluruh pelosok negeri didunia. Nyaris tidak ada bagian dari dunia yang bebas dari gelombang perubahan itu.
 Spektakuler, karena perubahan itu terjadi serentak, mendadak dan tidak memberikan waktu yang cukup bagi bangsa lain untuk bersiap-siap.
 Radikal, karena perubahan sosial itu mepengaruhi kehidupan manusia sampai pada sendi-sendi dan dasariah seperti soal akhlak dan pandangan hidup.
Karakteristik Kurikuler Pesantren
Ciri kurikuler pesantren ini memadukan penguasaan sumber ajaran Islam Ilahi. Selain mengenal ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (prilaku) dalam pengajarannya, sejak dini pesantren mendasarkan diri pada tiga ranah utama, yaitu Faqohah (kedalam pemahaman), Thabiah (perangai, watak, karakter) dan Kafaah (kecakapan operasional). Jika pendidikan adalah upaya perubahan maka yang harus berubah adalah tiga ranah itu.
Tabel Ranah Pendidikan Islam
Ranah Proses Hasil
Faqohah Ta’lim Dalil
Thabiah Taslik (peragaan, pengamalan, penerapan) Uswah
Kafaah Tatsqif Syahadah

Pesantren Dan Hak Asasi Manusia
Deklarasi universal hak-hak asasi manusi (DUHAM) pada tanggal 10 desember 1948. Universal declaration of human right (DUHAM) ditandatangani oleh 48 negara. Dunia belajar dari kegagalan berkali-kali dengan adanya peperangan besar, pembersihan etnis dan pemenuhan ambisi berlebihan yang menimbulkan dampak berupa penderitaan dan permasalahn kemanusiaan berkepanjangan. Hingga lahirlah DUHAM 1948. Negara Islam merespon deklarasi itu dengan dicetuskan Deklarasi Kairo 1990.
HAM itu State Obligation, relasi antara negara dan warga negara. Bukan relasi antar warga Negara. Hubungan individu dengan individu mungkin adalah pidana atau perdata. Tapi kalau Negara membuat kebijakan yang diskriminatif, seperti tidak memberikan pendidikan yang layak terhadap warga, maka Negara telah melanggar HAM. Jadi HAM itu relasi antara Negara dengan warga Negara.
Tujuan Pendidikan Pesantren
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, tentunya memiliki tujuan yang telah dirumusakan dengan jelas. Prof. Mastuhu mengatakan bahwa tujuan utama pesanteren adalah untuk mencapai hikmah atau wisdom yang berasas pada ajaran Islam yang hanif yang dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman arti hidup serta realisasi peran-peran dan tanggung jawab sosial. Setiap santri diharap mampu menjadi orang yang wise dalam menyikapi hidup, dalam bahasa pesantren wise diartikan ‘Alim, Sholih dan Nasyirul ‘ilmi.
Secara harfiyah orang yang ‘Alim adalah orang yang peka terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah SWT baik yang tersurat dalam al-Quran maupun yang berupa kenyataan dalam kehidupan ini. Arti kata Shalih adalah baik, layak, patut, lurus, berguna dan cocok. Kesemua ini dapat digapai bila orang menjalankan agama berdasarkan ilmu dan ajaran agama dengan tekun hingga memiliki integritas kepribadian tinggi (sholih).
Menurut Ibnu Kholdun, ilmu pengetahuan adalah kemampuan manusia untuk membuat analisis dan hipotesis sebagai hasil dari proses berfikir, proses berfikir itu disebut oleh Ibnu Khodun sebagai afid’ah (jamak dari fuad).
Menurut Ibnu Kholdun, terdapat tiga tingkat proses berfikir, yaitu :
 Al-aql at-Tamyizi
Yaitu perubahan pemahaman intelektual manusia terhadap sesuatu yang ada disekitarnya daiaam semesta dengan tujuan agar manusia bisa menyeleksi dengan kemampuannya sendiri. Bentuk pemikiran ini kebanyakan berupa persepsi (tashwur) yang bisa menolong manusia untuk membedakan yang baik dan yang buruk.
 Al-aql at-Tajribi
Pemikiran yang melengkapi manusia dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan dalam pergaulan dengan orang lain. Bentuk pemikiran ini kebanyakan berupa apersepsi (tashdiq) yang dicapai melalui pengalaman hingga manfaatnya dapat dirasakan benar. Al-aql at-Tajribi berfungsi setelah al-Aql at-Tamyizi.

 Al-aql an- Nadzori
Pemikiran yang melengkapi manusia dengan ilmu pengetahuan hipotesis (dzonn) mengenai hal-hal yang ada dibelakang persepsi indera tanpa tindakan praktis yang menyertainya. Bentuk pemikiran ini adalah gabungan dari persepsi dengan apersepsi yang tersusun khusus untuk membentuk pengetahuan. Dengan pengetahuan ini, manusia disebut al-Haqiqoh al-Insaniyah.
Dengan tiga tingkatan cara mendapatkan ilmu pengetahuan tersebut, Ibnu Kholdun membagi ilmu pengetahuan dalam tiga kategori, al-Ulum an-Naqliyah dan al-Ulum an-‘Aqliyah. Yang pertama yaitu bersifat alami (thobi’i) yang diperoleh manusia melalui kemampuan berfikirnya, ini adalah ilmu-ilmu hikmah falsafi yang jadi milik semua peradaban manusia. Ilmu-ilmu itu mencakup empat pokok yaitu : logika, fisika, metafisika dan matematika. Yang kedua yaitu bersifat wadl’i atau berdasar otoritas syariat yang dalam batas-batas tertentu tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Seperti ilmu tafsir, hadist, qirat, usul fiqh, fiqh, kalam, tasawuf, ilmu bahasa, nahwu, balaghah dan lain-lain.
Sebenarnya dalam menuntut ilmu pengetahuan, seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan adalah 10% dari apa yang didengar, 15% daru yang dilihat, 20% dari yang lihat dan didengar, 40% dari yang didiskusikan, 80% dari yang dialami dan dipraktekkan, dan 90% dari yang diajarkan pada orang lain.
Menurut KH. Abdurrahman Wahid, Jika kita lacak tradisi keilmuan Islam di pesantren bersumber dari dua dekade, yaitu dekade dimana pengetahuan keislaman datang ke nusantara pada abad ke-13. Dekade yang kedua yaitu ketika pemuda bangsa berlayar ke semenanjung Arabia untuk menimba ilmu dan kemudian pulang ketanah air dan mendirikan pesantren-pesantren. Sebenarnya, sudah sejak abad ke-15 pesantren berkembang di nusantara, namun catatan kurikulernya baru ada pada abad ke-19.
Pendalaman bahasa arab menjadi cirri kurikulum pesantren sejek generasi abad ke-17, yaitu ada masa ki ageng dan sunan atau sultan. Islamisasi kalender Jawa terjadi pada periode itu. Penguatan bahasa Arab meluas dua abad setelahnya (ke-19). Ditangan ulama segenerasi kyai Kholil Bangkalan bahasa jadi primadona.
Perkembangan ilmu pengetahuan mendrong kemajuan teknologi dan sebaiknya. Sebagai contoh, jika angka Romawi dipakai dalam hitungan scientific hingga sekarang, maka sulit membayangkan lahirnya komputer yang kerjanya mendasarkan pada angka biner (0-1). Sedangkan angka Romawi tidak memiliki angka 0. Arab mengenalkan angka desimal (1234567890), disini terdapat angka 0. Komputer sebagai alat teknologi canggih yang jika dihubungkan dengan perangkat telepon akan jadi internet. Menurut Qurisy Syihab, dalam buku Membumikan al-Quran, Ibnu Hayyan menlong Muhammad bin Ahmad menemukan angka 0 (nol) tahun 976 dan akhirnya mendrong Muhammad bin Musa al-Khwarizmi menemukan hitungan Aljabar.

Recontsruction Of Islamic Paragigm In Globalization

Every thing to day are going to be progress and perfect, the revolution in each sector of life such as science, technology, industrial, transportation and means of communication and the world now seems to be in the climax degree or level. By the responding and progressing in many sector of life, there is some word that is usually used to be motto and trend of scientist to survive and suit life with the era that is “Shifting Paradigm” it caused because of globalization in every thing which is full of modernity that forced us to reconstruct our paradigm to survive our life in this globalization era.
Globalization means modernization is a universal cause. Globalization is the process to the animate source to be inanimate source, the responding and developing in each sectors of life, especially in telecommunication and transportation. Globalization made or caused some one to see his self not only as the one of citizen of nation, but as the one of the citizen of the world. He didn’t regard that the value of his village right any more, now he compare that value with the values from the other nation they have studied before. Even in working, he didn’t see the regional of his nation to be the place for looking for daily needs or the basic necessities of life. But he makes wide and spread out the view or vision to the world level or degree only in searching the basic necessities of life.
Concerning with this problem, Marion J. Levy said, “The patterns of the relatively modernized societies, once developed, have shown a universal tendency to penetrate any social context whose participants have come in contact with them. The patterns always penetrate; once the penetration has begun, the previous indigenous pattern always change; and they always change in the direction on some of the patterns of the relatively modernized society”.

Globalization means western civilization that dominates the world. It means that our economic, political, social, life style and culture strongly influenced by the west, without its legacy and achievements, life is impossible for Moslem. We see the effects of west in every where, in every step of ours. The design and management of the country we live in, communications technologies and many others which we use in the daily basic needs are western’s creation or made in west or Europe.
This globalization especially brought the benefit or positive and negative effect for the importance of our nation and religion. For instance, we could get a lot of information easily from out of area, until we can get the new alternative and effort to solve and overcome our matters, this is the positive effect of globalization. But in other side, there is a negative effect of globalization, there are a lot of useless information which come to our life and broke our behavior and attitude. Such as, dishonest culture that is brought by the holy wood film, each porn pictures and films from internet, television, magazine, VCD and other means of communication. In economical side, there is free trade and many others of crimes which is caused by globalization.
Violence and sex shown on internet, television, magazine, VCD other means of communication result in higher rate of crimes and encourages antisocial behavior. This is especially evident in the USA and other western countries. Many criminals confess that their violent actions or attitudes to women were encouraged by television. The rate of such crimes is constantly growing and more and more often they are committed by teenagers. This is becoming a great problem of modern society.
Globalization shows westernization in life style. Do you know the beauty contest? We can watch on TV if we want to know what and how the beauty contest is. Beauty contest is popular in parts of the world. The biggest, the miss world competition, has been running annually since 1951, and although it is less popular in the UK now it was in 1968, when it attracts 27.5 million TV viewers, it attracts an enormous worldwide audience-around 3 billion viewers in 115 countries.
There are beauty contest for various categories of age, sex and sexuality. This topic focuses on adult women’s beauty contest as overwhelmingly the most popular and high profile version. Note that there are difficult technical issues abut running this debate, it probably works best as a values debate n whether beauty contests are a good thing or not, but this kind of comparison motion is frowned upon in some policy-based debating circles.
Now days, if we see our society this time, we will not see but sinfulness, do not feel but bitterness of life, so many cruel eyes crave immorality, so many tongues of advisors talk about morality while their acts are certainly immoral. Is the Moslem condition similar to that? Is it true condition of the faithful man? Is it true condition of the youth who are proud of the Quran? Is it true condition of the next generation who consider the messenger as their model? No! The condition of the next Moslem generation is not parallel to that. They are not like that and never like that, we are prohibited to have faulty character, we are prohibited to have low moral value, we are also prohibited to imitate the disastrous western ways of life.
Westernization occurs because of globalization, the west forced countries to be like them in every sector of life, it is the meaning of westernization. The west will influence their life style countries in the world, until we could not deny and refuse the wave of westernization because of globalization, because it means that we will live in the last or we will be leaved behind. Now and then, we have to be ready to live in this globalization, we must reconstruct our paradigm in order we can live and survive in this era and the west can not destroy our civilization.
If we look at Islamic problem in this world present, we can restrain our drops of tear because those troubles befall on Islamic world. Ur young generation have been influenced by westernization, all they know is only about the latest music, new comer actress, games, sport, and some thing like that in the name of modernization. They never care about their religion establishing and what was done with it. We have not got any choices just take case with them and give our hands to solve their troubles and persist to pray to Allah, may Allah will help and return back the Islamic victory up to Islam will exist on the world forever.
Actually, there is one reason why Islam in the destruction, because we did not want to reconstruct our paradigm to suit the era as we live in the past and also Islamic world is divided into many societies of nation spread all over the world, up to Islamic enemies destroy our civilization easily. If it happens in Islamic world, who is to blame ? We can blame them but we must correct our self, perhaps a lot of Moslems have been destroying Allah’s obligation. We keep our self, our family, from mistakes because if we want to build an Islamic government we must begin from our self than our families and our societies. But we have to remember that the fate of Islamic modern is concerned as far as the skill of Moslem in responding demands and changes of history in this era exactly.
At 21st century, the traditional era which faced by every people is the repercussion of modernization process all over the world. The process is an interrelated whit dramatic life context which relatives to find a big capability that adjust with new situation and innovation. This event has high realization, according family structure which contains about freedom, privacy and can find connection with another people, this not only for authority and fidelity but also for comradeship and good participation. This also demanded societies which have some feelings in it to get endorsement and it can reach what they want.
Ignoring and refusing the globalization as the natural process or throwing away all negative effects of globalization is impossible to do. Like or dislike, agree or disagree, ready or unready, we have to face this reality of globalization that came into our life and receive all its effects, even negative or positive effect of it. So that way, the importance thing that would be our challenge as Moslem which we have to face is how to utilize as good or maximal as possible the benefits or positive effects and minimize as little as possible negative effects of globalization.
By this globalization, as Moslem society we have to strengthen our faith and belief to our God. We have to face changes of era like now days, the era which is full of machine and high technology that perhaps spoil and baby us in our works. But we have to make this facility to be way of us in developing our skill for the sake of our religion, nation, community and many people or we will be late and do not forget that Islam is our way of life and our guide to understand our true self and shape our destiny. Because Religion is one of human being way to find a purpose of life and this world will be the surrounding, but most of human being in this modern era is difficult to believe in their own religion, because they have different opinion about their religion such as charging form in correctional facility.
Globalization is the big challenge especially for Islamic doctrine, one of them is our society will get influenced to the west culture or the bad culture which is in contradiction with the Islamic law and vision. Western culture spread out all over the world by the internet and television or TV. Now days, television plays a significant role, not only in social and political life, acting as a tool for spreading information and forming people’s mentality., but also in the every day life of individuals as a source of entertainment. It affects our mind and plays a role in shaping social changes. It is argued that this may be harmful as television shows more and more sex and violence, sacrifices the quality of the programs for the sake of commercial benefit and takes away the biggest part of our free time. On the other hand, is impossible to imagine the life of modern society without television, especially keeping in mind the crucial importance of spreading information around the globe.
Last but not least, I would like to invite you all to take the important meaning and start to do the best to be the best and give the best, lets prepare our self as good as possible and prove that we are vey ready to face the world. Do you remember that life we live in this world is a simply part of a greater journey but which is important we have to do is how to handle life changes and life events. Event though, we know that making change can be one of the hardest thing we have to do, we can give hand to your self if we want to make changes if we understand our reaction to change before we embark on the life its self, its a lot of work to do. Finally, the personality needs some worlds sigh for next period. That also can give positive thinking for improving life condition in this world and can restrain some annoyances for human being.
Once more, I’d like to remind you all and all of Moslem brothers where ever they are to wake up and realize that we have big responsibility and we can’t do our responsibility without being one. So to solve this problem, we have to unite our power and intention, because united we stand, divided we fall. God only knows.